Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

GRADUATION

31 Maret 2012.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Lebaran 1434 H

sabisa-bisa kudu bisa pasti bisa

Kunjungan

Sahabat-sahabat dari Yogyakarta.

Kegiatan

Lomba Penegak Pramuka.

Sabtu, 16 Juni 2012

TULISAN LAMA


Waktu menunjukan pukul 06.38 Waktu Indonesia Barat, tepatnya bagian jam dinding rumah saya, di daerah Sukajadi, Sukahurip, Cihaurbeuti, Ciamis Jawa Barat. Waktu yang memang diisi oleh banyak nya hilir mudik orang-orang untuk menuju tempat kerja seperti Siswa dan Guru yang lagi OTW ke Sekolah, petani yang siap menuju ke sawah, pedagang yang  sudah buka warungnya melayani pembeli,  ibu-ibu yang lagi beres-beres, dan sederet aktifitas pagi berwarna lainnya.

Saya pun tak mau ketinggalan orang lain, walaupun masih belum ada pekerjaan tetap karena baru aja lulus kuliah, tapi saya akan mencoba untuk menetapka diri untuk melakukan sesuatu hal positif. Ya Menulis ini salah satunya yang akan coba saya GIAT dan AKTIFkan kemabali, mengisi pagi untuk menjempur rizki. Lumayan bisa menambah kemampuan verbal  dan mengisi wakt saya.

untuk memulainya, saya mencoba terlebiih dahulu  mempostingkan tulisan yang belum dipostingkan ( lupa lagi nulisnya kapan, tapi kira-kira satu setengah sampe dua tahunan yang lalu deh,,) saat saya mengadakan perjalanan silaturahim ke rumah saudara-saudara saya.. Ini salah satu tulisannya...

Karena kita harus terbiasa dengan setiap tindakan dan pemikiran yang sadar, kita harus sadar, mulai mau menyadarkan diri, dan menyadarkan orang lain. Kesadaran yang terbentuk dari rasa sadar kita akan pentingnya kesadaran akan membuat kita merasa bisa dan mau untuk menjalani setiap jengkal langkah wajib hidup kita. Kesadaran yang sesuai fitrah akan mengajak kita menuju rasa bahagia. "Bahagia bukanlah sesuatu yang hadir dari banyak nya harta, bahagia ada di dalam dada, didalam keimanan yang tertancap kuat akan Allah subhanahu wata'ala. Kebahagian itu ada dalam agama dan beragama" setidak nya itu pendapat saya.

Rasa keberagamaan itu lah yang bisa memupuk subur arti dari sebuah kewajiban kita hidup tolong menolong antar sesama yang selalu dilandaskan atas usaha mencari keridhoan Allah swt. Tolong menolong bisa membanggun rasa kebersamaan dan membangun sikap kepercayaan antar sesama... 

Membangun Kepercayaan

Rasa kepercayaan yang sudah terbangun, baiknya terus di jaga dan dipelihara. Karena rasa kepercayaan itu hadir tidak dengan begitu saja. Ia hadir dari sebuah usaha pendekatan dan pemahaman akan realitas hidup masyarakat, dan perilaku kita keseharian. Seperti itulah kurang lebih yang saya simpulkan dalam beberapa menit percakapan dengan “mamang” (adek dari bapak) akan keberhasilannya dalam membangun usaha dan membangun kepercayaan dilingkungan barunya. Kurang lebih lima belas tahun beliau bekerja di daerah Jatisari, Cikampek, Jawa Barat, di sebuah desa yang masyarakatnya notabene nya orang yang ber-agama tapi sangat jauh dari perilaku seorang yang beragama; masyarakaat yang membisaakan diri dengan kehidupan asal senang, seperti mabuk mabukan, judi, kawin cerai, curi mencuri dan sebagainya. seperti itulah kehidupan disana.


Tapi yang menarik adalah bagaimana “mamang” saya ini bersosialisasi dengan lingkungannya, berbaur dengan masyarakatnya dan mewarnai aktivitas hidup di masyarakat tersebut. Lihat saja, ketika saya berkunjung ke sana, beliau ini sedang menambah ruang pabrik tahu nya untuk dijadikan pabrik oncom. Yang membantu bukan saja para pekerja nya saja, tapi masyarakat pun ikut mebantu, bukan hanya yang bisaa, yang sudah magister, seorang dosen pun warga sana ikut membantu dan mau disuruh, berbeda dengan kebisaaan warga di sana yang acuh jika dengan yang lain.

Selain itu, keamanan pun terjaga. Sangat paradok memang, ketika banyak tetangganya yang mngeluhkan barangnya kecurian, beliau selalu merasa tanang, karena orang-orang tidak berani untuk mencurinya… hal ini tidak terjadi begitu saja tapi karena adanya pendekatan-pendekatan yang sifatnya menolong tanpa pamrih, adanya keikhlasan untuk membantu dan menolong orang lain. Orang yang sudah hatinya tersentuh dengan perilaku kita yang ikhlas tanpa pamrih akan lebih mudah mempercayai kita.

So?? Irhamuu man fil Ardi farhamuhum man fissama .. Berkasih sayang lah dengan sesama orang-orang dibumi, maka yang dilangitpun akan mengasihi kita. Hasbunallah wanikmal wakil

Senin, 28 November 2011

Silaturahim dan Kecerdasan Sosial


Yogyakarta, 23 November 2011 pukul 08.50 WIB.

Wahai manusia, tebarkanlah salam, beri makan orang-orang yang kelaparan, eratkan tali persaudaraan, shalatlah dikeheningan malam dikala manusia terlelap dalam tidurnya, maka kamu dijamin masuk surga dengan penuh kedamaian (HR. Ahmad)

Memahami perasaan orang lain,,, kalimat yang secara tidak langsung menstimulasi otak saya untuk bertanya “kenapa kita harus memahami perasaan orang lain dan apa manfaatnya ketika kita bisa memahami orang lain?”. Kalimat memahami perasaan orang lain ini saya banyak temukan dalam buku Social intelligence nya  Goleman (2007) yang juga penulis buku emotional Intelligence. Buku ini saya pinjam sekitar 5 hari yang lalu (saya menulis ini  pada 23-11-2011) di perpustakaan Muh. Hatta kampus terpadu Universitas Islam Indonesia (UII).

Memahami orang lain adalah salah satu bentuk dari kecerdasan sosial, yang lahir dari adanya kecerdasan emosi (yang konon katanya bisa menentukan tingkat sukses seseorang). Goleman (2007) menjelaskan bahwa  Kita memiliki dua macam   fikiran, yang satu fikiran rasional dan satu lagi adalah fikiran emosional (merasa).  Dua macam fikiran ini memiliki kendali rasional terhadap pola fikir, yaitu semakin kuat perasaan, semakin dominan pikiran emosional-dan semakin tidak efektif perasaan rasional (begitu juga mungkin sebaliknya) tegas Goleman (2007). Goleman (2007) menambahkan bahwa Setinggi-tingginya, IQ menyumbang kira-kira 20 persen bagi faktor yang menentukan sukses dalam hidup, maka yang 80 persen lagi diisi oleh kekuatan-kekuatan lain ( seperti kecerdasan emosi atau sosial). Ciri-ciri kecerdasan emosi ini antara lain memiliki kemampuan untuk: memotivasi diri, dan menghadapi frustasi; mengendalikan dorongan hati dan tidak melebihkan kesenangan; mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berfikir; berempati dan berdoa.

Pada tahun 1920, tak lama setelah meledaknya antusiasme awal tentang tes IQ yang pada waktu itu masih baru, psikolog Edward Thorndike membuat rumusan orisinil tentang “kecerdasan sosial”. Ia merumuskan kecerdasan sosial sebagai “kemampuan untuk memahami dan mengelola orang lain”.KOnsep kecerdasan itu tidak sebatas disana. Kecerdasan sosial itu juga berbicara tidak hanya tentang relasi kita dengan orang lain, namun juga dalam relasi itu sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak bisa lepas dengan adanya “interaksi”dengan orang lain. Dengan kemajuann teknologi, interaksi tidak hanya bisa dilangsungkan dengan pertemuan secara langsung (face to face) tapi sekarang sudah  banyak teknologi (seperti HP dll) yang bisa mengantar seseorang berinteraksi dan tentunya lebih memudahkan. Tapi sayang, hal itu sedikit demi sedikit mengikis kepekaan kita dengan lingkungan social kita berada. Kadang ketika kita sibuk berinteraksi di dunia maya seperti smsan, chatting, buka FB, twiter dan sebagainya di jalan, kita tidak bisa menghiraukan sekitar, padahal ada orang tua yang kita lewati yang kita tidak sapa. Kita bisa saja (suatu saat) kehilangan emosi, seperti kita tidak bisa menangis atau tertawa. Hati-hati saja. Bisa terbayang bagaimana jadinya seseorang tanpa emosi?? Ingatlah sabda Rasulullah bahwa “Orang mukmin itu familiar dan mudah berkawan. Tidak ada kebaikan pada orang yang tertutup dan tidak bersahabat. Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (HR. Ad Daruqutni)”. Dari sana tersirat bahwa Islam memang agama yang tidak hanya mengurusi masalah keakhiratan saja, Islam juga merupakan agama yang peka dengan nilai-nilai sosial. Lihatlah betapa cerdasnya nabi mengungkapkan bagaimana kecerdasan ideal yang harus dimilki oleh seorang mukmin.

Untuk menumbuhkan kecerdasan sosial Islam mengenalkan sebuah istilah yang dinamkan dengan Silaturrahim (Menghubungkan kasih sayang). Rasullullah menyampaikan sektar 14 abad yang lalu bagaimana dampak positif yang bisa didapat dari Silaturahim ini. Silaturahim bisa menambah rejeki dan memanjangkan umur. Menambah rejeki karena biasanya dalam silaturahim itu ada sesuatu yang dihidangkan, atau kadang-kadang kita dapat bingkisan saat pulang, atau bisa saja kalo kita rajin silaturahim pas kita lagi kehujanan kita bisa di ajak naik mobil kawan kita yang biasa kita kunjungi. Dengan Silaturahim saudara akan bertambah, dan bertambahnya saudara bisa memudahkan urusan-urusan kita (tidak menutup kemungkinan juga dalam proses penjemputan rejeki kita). Kemudian silaturahim juga bisa memanjangkan umur, karena dengan silaturahim kita bisa membangun hubungan baik dengan orang lain. Kutipan Goleman tentang hubungan baik ini bahwa orang yang menjalin hubungan baik ia bisa  menjadi lebih kreatif, dan lebih efisien dalam mengambil keputusan. Ketika kita lebih kreatif dan efisien dalam mengambil keputusan maka setiap persoalan yang kita miliki (yang bisa saja persoalan itu jika tidak bisa dikelola akan menumbuhkan penyakit yang secara tidak langsung bisa mempercepat kematian) bisa kita selesaikan. Dengan hal itu maka hidup kita akan penuh dengan harapan yang bisa membuat kita lebih sehat.

Kembali ke pertanyaan awal saya tentang kenapa kita harus bisa merasakan orang lain dan apa manfaatnya? saya akan menjawab bahwa “kita harus peka dengan lingkungan, karena kita adalah makhluk sosial yang sering berinteraksi dengan orang lain. Merasakan kehadiran orang lain, merasakan kesusahan orang lain, atau membantu orang lain menyelesaikan masalahnya bisa membuat keadaan kita lebih baik. kita bisa lebih sehat, kita bisa lebih produktif, kita bisa lebih kuat bertahan dalam perubahan-perubahan dunia atau bahkan mungkin saja kita bisa  merubah dunia itu sendiri enjadi lebih baik. Merasakan orang lain adalah bentuk upaya untuk membangun sebuah hubungan yang baik, yang dengan hal itu kita tidak hanya memilki nilai plus dunia,tapi juga kita punya nilai plus akhirat.  Merasakan orang lain adalah upaya kita menjadi orang-orang yang bermanfaat bagi orang lain. Akhirnya mari kita sama-sama menjalin Silaturahim dengan orang lain.

Itu pendapat saya, bagaimana pendapat anda?


Daftar Pustaka

Goleman, Daniel. 2007. Emotional Intelligence (cetakan ketujuh belas). Jakarta: Gramedia

_____________. 2007. Social Intelligence .  Jakarta: Gramedia

 

Kamis, 17 November 2011

BAHAGIA


Mari Berbahagia dan terus berbahagia

Dengan apa?

Dengan harapan bahagia

dengan melakukan hal-hal yang membahagiakan

menjalankan kebahagiaan


Mari berbahagia

membagi  cinta ke penjuru dunia

menumbuhkan semangat kebahagiaan

dengan bahagia


Mari berbahagia

Karena bahagia adalah pilihan kita

Mari berbahagia

Meniti jalan kebahagiaan

titian jalur kesejatian


teruslah menebar Bahagia

Buat semua bahagia

Dan Kita BERBAHAGIA dengan kebahagiaan..